Potensi Lengkuas untuk Pertanian Kakao Tompak

Potensi Lengkuas untuk Pertanian Kakao Tompak

Cerita4 Agustus 2026

Galangal for Farmers: Solusi Ramah Lingkungan Lawan Helopeltis

Beberapa tahun terakhir, dunia kakao mengalami gejolak yang cukup dramatis. Dalam satu dekade terakhir banyak petani di Sulawesi dan Sumatra menebang pohon kakao mereka karena frustrasi diserang hama, pohon tua, dan harga jual yang tak sepadan dengan biaya perawatan. Krisis pasokan kakao global yang melanda Afrika Barat pada akhir 2023 hingga 2024 memicu lonjakan harga yang luar biasa. Jika biasanya biji kakao lokal hanya dihargai Rp25.000–Rp30.000 per kg, harga tersebut melesat hingga menembus angka di atas Rp100.000–Rp150.000 per kg di puncaknya. Kenaikan harga yang sangat drastis ini menjadi booster semangat bagi petani di seluruh Indonesia. Banyak yang mulai membersihkan kebun tua, membeli bibit unggul baru, dan melakukan gerakan penanaman kembali. Kebangkitan budidaya kakao ini pun menjadi fenomena yang terlihat jelas dalam 1–2 tahun terakhir.

Gelombang kebangkitan ini turut menyentuh Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Kapanewon Girimulyo, tepatnya di Dusun Tompak, Desa Giripurwo, para petani mulai melirik kembali kakao sebagai komoditas yang menjanjikan. Hal ini dikarenakan Dusun Tompak terletak di dataran menengah memiliki kondisi lingkungan yang sangat mendukung untuk budidaya kakao. Dengan ketinggian lahan yang berada pada kisaran ideal 0–600 meter di atas permukaan laut (mdpl), curah hujan yang cukup tinggi dan merata sekitar 1.500–2.500 mm per tahun, serta suhu harian yang berkisar 23°C–32°C dengan kelembapan udara relatif di atas 70–80%, Dusun Tompak menyediakan ekosistem yang nyaman bagi pertumbuhan dan produktivitas tanaman kakao. Kondisi ini membuat kakao dapat tumbuh subur dan berbuah lebat jika dirawat dengan baik.

Namun, di balik potensi besar tersebut, petani kakao di Dusun Tompak menghadapi tantangan yang tidak mudah. Hama utama tanaman kakao, yaitu kepik penghisap buah (Helopeltis sp.), menjadi ancaman terbesar pada hasil panen. Hama ini menusuk dan menghisap cairan buah kakao, menyebabkan bercak hitam. Serangan Helopeltis paling fatal saat menyerang umur buah kakao dibawah 3 bulan, dia menyerang jaringan nutrisi utama, sehingga buah kakao tidak dapat tumbuh dengan normal. Selama ini, petani cenderung mengandalkan pestisida kimia sintetik untuk mengendalikan hama tersebut. Namun, penggunaan pestisida kimia yang berlebihan dan terus-menerus menimbulkan dampak negatif, seperti pencemaran lingkungan, resistensi hama, hingga ancaman bagi kesehatan petani dan konsumen.

Disisi lain, Dusun Tompak menyimpan potensi lokal yang melimpah dan selama ini mungkin kurang dimanfaatkan, yaitu tanaman lengkuas (Alpinia galanga). Rimpang lengkuas yang tumbuh melimpah di pekarangan dan ladang warga mengandung senyawa aktif seperti minyak atsiri, sineol, kamfer, dan galangin yang bersifat sebagai biotoksin dan penolak (repellent) bagi serangga hama. Sudah ada penelitian yang membuktikan bahwa rimpang lengkuas dapat mengurangi serangan helopeltis.

Rimpang Lengkuas
Rimpang lengkuas yang tumbuh di pekarangan warga.

Cara Membuat Biopestisida dari Rimpang Lengkuas

Pemanfaatan rimpang lengkuas sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan metode pengolahan sederhana. Berdasarkan penelitian Hastuti, Rusmana, dan Hasan (2015), rimpang lengkuas digunakan dengan konsentrasi 100 gram per liter air. Bahan tersebut kemudian diolah menjadi larutan yang dapat diaplikasikan pada tanaman lokal untuk membantu mengendalikan hama Helopeltis sp.

Tahapan pembuatannya sebagai berikut:

1. Menyiapkan rimpang lengkuas dan air

Menyiapkan rimpang lengkuas sebagai bahan utama pembuatan biopestisida serta air sebagai bahan pelarut. Rimpang lengkuas dan air disiapkan sesuai kebutuhan pembuatan larutan biopestisida sebelum memasuki tahap pembersihan dan pengolahan bahan. Berdasarkan metode penelitian yang digunakan sebagai acuan, konsentrasi yang digunakan adalah 100 gram rimpang lengkuas untuk 1 liter air.

Rimpang lengkuas yang sedang diolah menjadi biopestisida
Proses persiapan bahan untuk pembuatan biopestisida dari rimpang lengkuas.

2. Membersihkan rimpang lengkuas

Membersihkan rimpang lengkuas yang telah disiapkan dengan mencucinya menggunakan air hingga bersih untuk menghilangkan tanah, kotoran, dan sisa-sisa yang menempel pada permukaan rimpang. Proses ini dilakukan sebagai tahap awal sebelum rimpang dipotong dan ditakar untuk pembuatan biopestisida.

Rimpang lengkuas yang telah dibersihkan dan siap diolah
Rimpang lengkuas yang telah dibersihkan dan siap diolah menjadi biopestisida.

3. Memotong dan menakar rimpang lengkuas

Rimpang lengkuas yang telah dibersihkan kemudian dipotong menjadi bagian-bagian kecil agar lebih mudah diolah.

Rimpang lengkuas yang telah dipotong dan ditakar untuk pembuatan biopestisida
Rimpang lengkuas yang telah dipotong sesuai kebutuhan pembuatan biopestisida.

Setelah itu, potongan lengkuas ditimbang dan disesuaikan dengan takaran yang digunakan dalam pembuatan biopestisida. Pada pembuatan yang dilakukan dalam kegiatan ini, digunakan 50 gram rimpang lengkuas yang dicampurkan dengan 500 ml air. Takaran tersebut digunakan sebagai formulasi larutan biopestisida yang kemudian akan diproses pada tahap berikutnya.

Rimpang lengkuas yang telah ditakar dan siap diolah menjadi biopestisida
Rimpang lengkuas yang telah ditakar sesuai kebutuhan pembuatan biopestisida.

4. Menghaluskan lengkuas

Menghaluskan rimpang lengkuas yang telah dibersihkan, dipotong, dan ditakar menggunakan blender hingga menjadi bahan yang lebih halus. Proses ini dilakukan untuk mengolah rimpang lengkuas sebelum dicampurkan dengan air dan diproses lebih lanjut menjadi larutan biopestisida.

Rimpang lengkuas yang telah dihaluskan
Rimpang lengkuas yang telah dihaluskan untuk pembuatan biopestisida.

5. Menyaring slurry

Menyaring slurry atau hasil penghalusan rimpang lengkuas untuk memisahkan ampas dan partikel padat dari bagian larutan. Proses penyaringan dilakukan agar diperoleh larutan yang lebih bersih dan tidak mengandung partikel kasar yang dapat mengganggu proses penggunaan biopestisida, khususnya saat diaplikasikan menggunakan alat penyemprot.

Slurry rimpang lengkuas yang telah disaring
Slurry rimpang lengkuas yang telah disaring untuk pembuatan biopestisida.

6. Mendiamkan larutan

Mendiamkan larutan hasil penyaringan selama 24 jam untuk memberikan waktu bagi bahan aktif dari rimpang lengkuas terlarut dan tercampur dalam larutan. Larutan dibiarkan dalam wadah yang sesuai sebelum digunakan pada tahap aplikasi biopestisida. Tahap pendiaman selama 24 jam ini mengikuti metode pembuatan larutan pestisida nabati yang digunakan sebagai acuan.

Larutan biopestisida dari rimpang lengkuas yang sedang didiamkan
Larutan biopestisida dari rimpang lengkuas yang sedang didiamkan.

7. Aplikasi biopestisida pada tanaman

Setelah didiamkan selama 24 jam, larutan biopestisida berbahan baku rimpang lengkuas siap digunakan pada tanaman. Larutan kemudian dimasukkan ke dalam alat penyemprot dan diaplikasikan secara langsung pada tanaman, terutama pada bagian tanaman yang menjadi sasaran serangan hama Helopeltis sp.

Aplikasi biopestisida dari rimpang lengkuas pada tanaman
Aplikasi biopestisida dari rimpang lengkuas pada tanaman untuk mengendalikan hama Helopeltis sp.

Penyemprotan dilakukan secara berkala dengan interval satu minggu. Aplikasi juga dilakukan pada sore hari untuk mengikuti metode yang digunakan sebagai acuan, yaitu sekitar pukul 16.00–17.00 WIB. Penyemprotan secara berkala dilakukan sebagai bagian dari upaya pengendalian hama sekaligus penerapan alternatif pestisida nabati yang memanfaatkan bahan baku lokal.

Potensi Lengkuas sebagai Biopestisida Ramah Lingkungan untuk Pertanian Berkelanjutan

Pemanfaatan rimpang lengkuas sebagai bahan biopestisida menjadi salah satu alternatif dalam pengendalian hama pada tanaman lokal. Lengkuas memiliki kandungan senyawa aktif, antara lain minyak atsiri, sineol, kamper, dan galangin, yang dalam penelitian diketahui memiliki sifat sebagai biotoksin dan penolak (repellent) terhadap serangga.

Penelitian mengenai penggunaan larutan pestisida nabati rimpang lengkuas pada tanaman lokal menunjukkan bahwa pemberian larutan lengkuas dapat menekan luas dan intensitas serangan Helopeltis sp. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa perlakuan menggunakan larutan rimpang lengkuas menghasilkan luas dan intensitas serangan yang relatif lebih rendah dibandingkan beberapa perlakuan pestisida nabati lainnya.

Potensi tersebut menjadi relevan untuk dikembangkan di Dusun Tompak karena lengkuas merupakan salah satu tanaman yang tersedia di lingkungan masyarakat. Pemanfaatan tanaman lokal sebagai bahan biopestisida memberikan nilai guna tambahan terhadap sumber daya yang tersedia di sekitar masyarakat sekaligus memperkenalkan alternatif dalam pengendalian hama kakao.

Melalui kegiatan ini, pemanfaatan lengkuas tidak hanya dilakukan dalam bentuk pembuatan dan aplikasi biopestisida, tetapi juga didokumentasikan dan dipublikasikan melalui media digital yaitu website dusun Tompak. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi masyarakat mengenai pemanfaatan bahan lokal dalam mendukung budidaya kakao yang lebih berkelanjutan.

Pemanfaatan rimpang lengkuas sebagai biopestisida menjadi salah satu langkah dalam mengembangkan inovasi pertanian berbasis potensi lokal di Dusun Tompak. Melalui proses pembuatan, aplikasi pada tanaman, serta dokumentasi dan publikasi digital, pengetahuan mengenai pemanfaatan bahan lokal dapat terus diperkenalkan kepada masyarakat. Diharapkan kegiatan ini dapat mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan dan mendukung upaya pengelolaan tanaman yang lebih ramah lingkungan.

Referensi

Hastuti, D., Rusmana, & Hasan, P. (2015). Uji Efektifitas Larutan Pestisida Nabati Rimpang Lengkuas, Daun Serai, dan Daun Babadotan pada Pengendalian Hama Penghisap Buah (Helopeltis sp.) Tanaman Kakao. Jurnal Agroekotek, 7(2), 97–105.